Observasi Pasca Bedah Di Kamar Operasi RS Darmo Surabaya

20150130014827

Monitoring Pasca Bedah / Operasi sangatlah penting bagi pasien yang menjalani pemulihan dari pengaruh obat – obat anestesi.

Pada prinsipnya dalam penatalaksananaan anestesi dalam kasus operasi, terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra anestesi, tahap penatalaksana ananestesi dan pemeliharaan serta tahap pemulihan dan perawatan pasca anestesi.

Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang biasa dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room, yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca bedah atau anestesi. Ruang pulih sadar adalah batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif ICU. Dengan demikian pasien pasca operasi dan anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya.

Pulih dari anestesi umum atau dari analgesia regional secara rutin dikelola dikamar pulih atau Unit Perawatan Pasca Anestesi (RR, Recovery Room atau PACU, Post Anestesia Care Unit). Idealnya bangun dari anestesi secara bertahap, tanpa keluhan dan mulus. Kenyataannya sering dijjumpai hal-hal yang tidak menyenangkan akibat stres pasca bedah atau pasca anestesi yang berupa gangguan napas, gangguan kardiovaskular, gelisah, kesakitan, mual-muntah, menggigil dan kadang-kadang pendarahan.

Recovery room atau ruang pemulihan adalah sebuah ruangan di rumah sakit, dimana pasien dirawat setelah mereka telah menjalani operasi bedah dan pulih dari efek anestesi. Pasien yang baru saja di operasi atau prosedur diagnostik yang menuntut anestesi atau obat penenang dipindahkan ke ruang pemulihan, dimana keadaan vital sign pasien (nadi, tekanan darah, suhu badan dan saturasi oksigen) diawasi ketat setelah efek dari obat anestesi menghilang.

Pasien biasanya akan mengalami disorientasi setelah mereka sadar kembali, dan di ruang pemulihan ini pasien ditenangkan apabila menjadi anxietas dan dipastikan kalau fisik dan emosional mereka terkendali.

Ruangan dan Fasilitas

Unit Perawatan Pasca Anestesi (UPPA) harus berada dalam satu lantai  dan dekat dengan kamar bedah, supaya kalau timbul kegawatan dan perlu segera diadakan pembedahan ulang tidak akan banyak mengalami hambatan. Selain itu karena segera setelah selesai pembedahan dan anestesi dihentikan pasien sebenarnya masih dalam keadaan anestesi dan perlu diawasi dengan ketat seperti masih berada di kamar bedah.

Besar ruangan dan fasilitas tergantung pada kemampuan kerja kamar bedah. Kondisi ruangan yang membutuhkan suhu yang dapat diatur dan warna yang tidak mempengaruhi warna kulit dan mukosa sangat membantu untuk membuat diagnose dari adanya kegawatan nafas dan sirkulasi. Ruang pulih sadar yang terletak di dekat kamar bedah akan mempercepat atau memudahkan bila diperlukan tindakan bedah kembali. Alat untuk mengatasi gangguan nafas dan jalan nafas harus tersedia, misalnya jalan nafas orofaring, jalan nafas orotrakeal, laringoskop, alat trakeostomi, dalam segala ukuran. Oksigen dapat diberikan dengan FiO2 25% – 100%.

Pengelolaan Pasien di Ruang Pulih Sadar

Pengawasan ketat di ruang pemulihan atau UPPA harus seperti sewaktu berada di kamar bedah sampai pasien bebas dari bahaya, karena itu peralatan monitor yang baik harus disediakan. Tensimeter, oksimeter denyut (pulse oxymeter), EKG,peralatan resusitasi jantung-paru dan obatnya harus disediakan tersendiri, terpisah dari kamar bedah.

Personil dalam UPPA sebaiknya sudah terlatih dalam penanganan pasien gawat, mahir menjaga jalan napas tetap paten, tanggap terhadap perubahan dini tanda vital yang membahayakan pasien.

Setelah dilakukan pembedahan pasien dirawat diruang pulih sadar. Pasien yang dikelola adalah pasien pasca anestesi umum ataupun anestesi regional. Di ruang pulih sadar dimonitor jalan nafasnya apakah bebas atau tidak, ventilasinya cukup atau tidak dan sirkulasinya sudah baik atau tidak. Pasien dengan gangguan jalan nafas dan ventilasi harus ditangani secara dini. Selain obstruksi jalan nafas karena lidah yang jatuh ke belakang atau spasme laring, pasca bedah dini kemungkinan terjadi mual-muntah yang dapat berakibat aspirasi. Anestesi yang masih dalam, dan sisa pengaruh obat pelumpuh otot akan berakibat penurunan ventilasi.

Pasien yang belum sadar diberikan oksigen dengan kanul nasal atau masker sampai pasien sadar betul. Pasien yang sudah keluar dari pengaruh obat anestesi akan sadar kembali. Kartu observasi selama di ruang pulih sadar harus ditulis dengan jelas, sehingga dapat dibaca bila pasien sudah kembali ke bangsal. Bila keadaan umum dan tanda-tanda vital pasien normal dan stabil, maka pasien dapat dipindahkan ke ruangan dengan pemberian instruksi pasca operasi.

Tingkat perawatan pasca anestesi pada setiap pasien tidak selalu sama, bergantung pada kondisi fisik pasien, teknik anestesi, dan jenis operasi, monitoring lebih ketat dilakukan pada pasien dengan risiko tinggi seperti:
Kelainan organ
Syok yang lama
Dehidrasi berat
Sepsis
Trauma multiple
Trauma kapitis
Gangguan organ penting, misalnya : otak

Pada saat melakukan observasi di ruang pulih, agar lebih sistematis dan lebih mudah dapat dilakukan ³monitoring B6´, yaitu :
Breath (nafas) : Sistem Respirasi 

Pasien belum sadar dilakukan evaluasi :
Pola nafas
Tanda-tanda obstruksi
Pernafasan cuping hidung
Frekuensi nafas
Pergerakan rongga dada : simetris/tidak
Suara nafas tambahan : tidak ada pada obstruksi total
Udara nafas yang keluar dari hidung
Sianosis pada ekstremitas
Auskultasi : wheezing, ronki
Pasien sadar : tanyakan adakah keluhan pernafasan.
Jika tidak ada keluhan : cukup berikan O2
Jika terdapat tanda-tanda obstruksi : terapi sesuai kondisi (aminofilin,kortikosteroid, tindakan tri ple manuver airway).

Blood (darah) : Sistem Kardiovaskuler 
Tekanan darah
Nadi
Perfusi perifer
Status hidrasi (hipotermi ± syok)
Kadar Hb

Brain (otak) : Sistem SSP
Menilai kesadaran pasien dengan GCS (Glasgow Coma Scale)
Perhatikan gejala kenaikan TIK  4.

Bladder (kandung kencing) : Sistem Urogenitalis
Periksa kualitas, kuantitas, warna, kepekatan urine
Untuk menilai : Apakah pasien masih dehidrasi, Apakah ada kerusakan ginjal saat operasi, acute renal failure

Bowel (usus) : Sistem Gastrointestinalis

Periksa :
Dilatasi lambung
Tanda-tanda cairan bebas
Distensi abdomen
Perdarahan lambung post operasi
Obstruksi atau hipoperistaltik, gangguan organ lain, misal: hepar,lien, pancreas
Dilatasi usus halus,
Hati-hati, pasien operasi mayor sering mengalami kembung yang mengganggu pernafasan, karena ia bernafas dengan diafragma.
Bone (tulang) : Sistem Musculoskeletal

Periksa :
Tanda-tanda sianosis
Warna kuku
Perdarahan post operasi

Gangguan neurologis : Gerakan Ekstremitas 

Kriteria yang digunakan dan umunya yang dinilai pada saat observasi di ruang pulih adalah warna kulit, kesadaran, sirkulasi, pernafasan, dan aktivitas motorik,seperti skor Aldrete (lihat tabel). Idealnya pasien baru boleh dikeluarkan bila jumlah skor total adalah 10. Namun bila skor total telah di atas 8 , pasien boleh keluar ruang pemulihan.

Namun bila pasien tersebut anak-anak kriteria pemulihan yang digunakan adalah skor Steward, yang dinilai antara lain pergerakan, pernafasan dan kesadaran. Bila skor total di atas 5, pasien boleh keluar dari ruang pemulihan.

Untuk pasien dengan spinal anestesi digunakan kriteria skor Bromage, yang dinilai adalah pergerakan kaki, lutut dan tungkai, apabila total skor di atas 2, pasien boleh di pindahkan ke ruang rawat.
Tabel Skor Pemulihan Pasca Anestesi

Aldrete Score (dewasa)

Penilaian

Nilai Warna
Merah muda, 2
Pucat, 1
Sianosis, 0
Pernapasan
Dapat bernapas dalam dan batuk, 2
Dangkal namun pertukaran udara adekuat, 1
Apnoea atau obstruksi, 0
Sirkulasi

Tekanan darah menyimpang <20% dari normal, 2
Tekanan darah menyimpang 20-50 % dari normal, 1
Tekanan darah menyimpang >50% dari normal, 0
Kesadaran
Sadar, siaga dan orientasi, 2
Bangun namun cepat kembali tertidur, 1
Tidak berespons, 0
Aktivitas
Seluruh ekstremitas dapat digerakkan, 2
Dua ekstremitas dapat digerakkan,1
Tidak bergerak, 0
Jika jumlahnya > 8, penderita dapat dipindahkan ke ruangan
Tabel Skor Pemulihan Pasca Anestesi Steward Score (anak-anak)

Pergerakan
Gerak bertujuan 2
Gerak tak bertujuan 1
Tidak bergerak 0
Pernafasan
Batuk, menangis 2
Pertahankan jalan nafas 1
Perlu bantuan 0
Kesadaran
Menangis 2
Bereaksi terhadap rangsangan 1
Tidak bereaksi 0
Jika jumlah > 5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.
Tabel. Skor Pemulihan Pasca Anestesi Bromage Score (spinal anestesi)

Kriteria Nilai
Gerakan penuh dari tungkai, 0
Tak mampu ekstensi tungkai, 1
Tak mampu fleksi lutut, 2
Tak mampu fleksi pergelangan kaki, 3
Jika Bromage Score 2 dapat pindah ke ruangan.

Komplikasi Pasca Anestesi dan Penanganannya

Komplikasi Respirasi

20150130080835

1. Obstruksi jalan nafas

Prinsip dalam mengatasi sumbatan mekanik dalam sistem anestesi adalahdengan menghilangkan penyebabnya. Diagnosis banding antara sumbatan mekanik dan bronkospasme harus dibuat sedini mungkin. Sumbatan mekanik lebih seringterjadi, dan mungkin dapat menjadi total, dimana wheezing akibat dapat terdengar tanpa atau dengan stetoskop.

Penyebab sumbatan bisa nyata sebagai contoh, keadaan ini dapat diatasi dengan meluruskan pipa yang terpuntir dibalik rongga mulut. Jika pipa ditempatkan terlalu jauh ke dalam trakea, maka pipa tersebut biasanya memasuki bronkus utama jika kadar tinggi oksigen yang dipakai,sampai terjadi tanda-tanda hipoksia, hiperkardi atau sumbatan pernafasan menjadi nyata.

Komplikasi dapat dihindarkan jika ahli anestesi memeriksa kedudukan pipa setelah dipasang dengan mendengarkan melalui stetoskop di atas setiap sisi dada, sementara secara manual paru-paru dikembangkan, jika suara pernafasan tidak terdengar atau pengembangan pada satu sisi dada telah didiagnosis, maka harus secara lambat laun ditarik sampai udara terdengar memasuki kedua sisi toraks secara seimbang. Penggunaan pipa yang telah dipotong sampai sepanjang bronkus kanan dapat mengurangi bahaya.

Ahli anestesi tidak boleh melupakan bahwa, jika dihadapkan pada sumbatan mekanik yang tidak dapat dijelaskan, segera setelah intubasi, maka anjuran terbaik adalah pipa ditarik keluar dan dilakukan re-intubasi.

Sumbatan mekanik pada penderita yang tidak diintubasi, apakah dapat bernafas dengan spontan atau dikembangkan, paling sering disebabkan oleh lidah yang jatuh ke belakang. Biasanya keadaan ini dapat ditolong dengan mengekstensikan kepala, mendorong dagu ke muka dan memasang pipa udara anestetik peroral atau nasal.

Sumbatan mekanik pada penderita yang di intubasi mungkin bersifat samar-samar. Paling penting disadari bahwa adanya pipa trakea tidak menjamin saluran pernafasan yang lancar. Pipa dapat menjadi terpuntir, bagian yang melengkung dapat terhalang pada dinding trakea, atau dapat terlalu menjorok jauh dan memasuki bronkus utama kanan atau manset dapat menyebul keluar menutupi bagian ujung.

2. Bronkospasme

Bronkospame dapat diatasi secara terapi medik, tetapi yang paling penting adalah memastikan bahwa tidak terjadi sumbatan mekanik, baik secara anatomis,akibat lidah yang terjatuh ke belakang pada penderita yang tidak diintubasi, atau akibat defek peralatan seperti yang telah dijelaskan di atas.

Efedrin intravena setiap kali dapat ditambah 5 mg, atau 30 mg intramuscular, sehingga dapat menolong, tetapi dapat menyebabkan takikardi dan meningkatkan tekanan darah. Secara bergantian, suntikan lambat 5 mg/kg aminofilin intravena.

3. Hipoventilasi

Pada hipoventilasi, rangsang hipoksia dan hiperkarbia mempertahankan penderita tetap bernafas. Pada hipoventilasi berat, pC02 naik > 90 mmHg, sehingga menimbulkan koma, dengan pemberian O2 hipoksia berkurang (p02 naik) tetapi pCO2 tetap atau naik pada hipoventilasi ringan. Sedangkan pada hipoventilasi berat jusrtu mengakibatkan paradoksikal apnea, yaitu penderita justru jadi apnea setelah diberi oksigen. Terapi yang benar pada hipoventilasi adalah :
Membebaskan jalan nafas
Memberikan oksigen
Menyiapkan nafas buatan
Terapi sesuai penyebabnya
4. Hiperventilasi

Hiperventilasi dengan hipokapnia akan merangsang kalium ekstraselular mengalir ke intraselular, hingga terjadi hipokalemia. Aritmia berupa bradikardia relatif dapat terjadi pada hipokalemia.

Komplikasi  Kardiovaskular

Hipertensi dapat disebabkan karena nyeri akibat pembedahan, iritasi pipa trakea, cairan infus berlebihan, buli-buli penuh atau aktivasi saraf simpatis karena hipoksia, hiperkapnea dan asidosis. Hipertensi akut dan berat yang berlangsung lama akan menyebabkan gagal ventrikel kiri, infark miokard, disritmia, edema paru atau pendarahan otak. Terapi hipertensi ditujukan pada faktor penyebab dan kalau perlu dapat diberikan klonidin (catapres) atau nitroprusid (niprus) 0,5 ± 1,0 µg/kg/ menit.

Hipotensi yang terjadi karena isian balik vena (venous return) menurun disebabkan pendarahan, terapi cairan kurang adekuat, diuresis, kontraksi miokardium kurang kuat atau tahanan veskuler perifer menurun. Hipotensi harus segera diatasi untuk mencegah terjadi hipoperfusi organ vital yang dapat berlanjut dengan hipoksemia dan kerusahan jaringan. Terapi hipotensi disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Berikan O2 100%dan infus kristaloid RL atau Asering 300-500 ml.

Distritmia yang terjadi dapat disebabkan oleh hipokalemia, asidosis-alkalosis,hipoksia, hiperkapnia atau penyakit jantung.

Hipertensi karena anestesi tidak adekuat dapat dihilangkan dengan menambah dosis anestetika. Bila persisten dapat diberi obat penghambat beta adrenergik seperti propanolol atau obat vasodilator seperti nitrogliserin yang juga bermanfaat untuk memperbaiki perfusi miokard. Reaksi hipertensi pada waktu laringoskopi dapat dicegah antara lain dengan terlabih dahulu memberi semprotan lidokain topical kedalam faring dan laring, obat seperti opiat dan lain-lain.

Hipertensi karena kesakitan yang terjadi pada akhir anestesi dapat diobati  dengaan analgetika narkotik seperti pethidin 10 mg I.V atau morfin 2-3 mg I.V dengan memperhatikan pernafasan (depresi).

Aritmia jantung pada anestesia, terjadi kira-kira 15-30 %. Etiologi aritmia selama anestesia :
Tindakan bedah : Bedah mata, hidung, gigi, traksimesenterium, dilatasi anus.
Pengaruh metabolisme : hipertiroid, hiperkalemi
Penyakit tertentu : penyakit jantung bawaan, penyakit hiperkapnia,hipokelmia, jantung koroner
Pengaruh obat tertentu : atropine, halotan, adrenalin dll.
Komplikasi Lain-lain

Mengigil

Pada akhir anestesi dengan tiopental, halotan atau enfluran kadang-kadang timbul mengigil di seluruh tubuh disertai bahu dan tangan bergetar. Hal ini mungkin terjadi karena hipotermia atau efek obat anestesi, Hipotermi terjadi akibat suhu ruang operasi, ruang UPPA yang dingin, cairan infus dingin, cairan irigasi dingin, bedah abdomen luas dan lama. Faktor lain yang menjadi pertimbangan ialah kemungkinan waktu anestesi aliran gas diberikan terlalu tinggi hingga pengeluaran panas tubuh melalui ventilasi meningkat.

Terapi petidin 10-20 mg i.v. pada pasien dewasa, selimut hangat, infus hangat dengan infusion  warmer,  lampu penghangat untuk menghangatkan suhu tubuh.

Gelisah setelah anestesi

Gelisah pasca anestesi dapat disebabkan karena hipoksia, asidosis,hipotensi, kesakitan. Penyulit ini sering terjadi pada pemberian premedikasi dengan sedatif tanpa anelgetika, hingga pada akhir operasi penderita masih belum sadar tetapi nyeri sudah mulai terasa. Komplikasi ini sering didapatkan pada anak dan penderita usia lanjut. Setelah disingkirkan sebab-sebab tersebut di atas, pasien dapat diberikan midazolam 0,05-0,1mg/kgBB atau terapi dengan analgetika narkotika (petidin 15-25 mg I.V ).

Kenaikan Suhu

Kenaikan suhu tubuh harus kita bedakan apakah demam (fever) atau hipertermia (hiperpireksia). Demam adalah kenaikan suhu tubuh diatas 38 derajat Celcius dan masih dapat diturunkan dengan pemberian salisilat. Sedangkan hipertermia ialah kenaikan suhu tubuh diatas 40 derajat Celcius dan tidak dapat diturunkan dengan hanya memberikan salisilat.

Beberapa hal yang dapat mencetuskan kenaikan suhu tubuh ialah:
Puasa terlalu lama
Suhu kamar operasi terlalu panas (suhu ideal 23-24 derajat Celcius)
Penutup kain operasi yang terlalu tebal
Dosis premedikasi sulfas atropin terlalu besar
Infeksi
Kelainan herediter (kelainan ini biasanya menjurus pada komplikasihipertermia maligna)
Hipertermia maligna merupakan krisis hipermetabolik dimana suhu tubuh naik lebih dari 2 derajat Celcius dalam waktu satu jam. Walaupun angka kajadian komplikasi ini jarang, yaitu 1: 50.000, pada penderita dewasa dan 1: 25.000 pada anak-anak, tetapi jika terjadi, angka kematiannya cukup tinggi yaitu 60%. Etiologi komplikasi ini masih diperdebatkan, tetapi telah banyak dikemukakan bahwa kelainan herediter ini karena adanya cacat pada ikatan kalsium dalam reticulum sarkoplasma otot atau jantung.

Adanya pacuan tertentu akan meyebabkan keluarnya kalsium tersebut dan masuk kedalam sitoplasma hingga menghasilkan kontraksi miofibril hebat,penumpukan asam laktat dan karbondioksida, meningkatkan kebutuhan oksigen,asidosis metabolik, dan pembentukan panas. Kebanyakan obat anestetika akan menjadi triger pada penderita yang berbakat hipertermia maligna herediter ini. Halotan dan suksinilkolin adalah obat-obat yang sering dilaporkan sebagai pencetus penyulit ini. Akan tetapi tidak berarti obat-obat lain aman terhadap komplikasi ini. Gejala klinis selain kenaikan suhu mendadak, tonus otot bertambah, takikardi, tetani, mioglobinuria, gagal ginjal dan gagal jantung.

Penanggulangan komplikasi dilakukan dengan langkah-langkah:

Hentikan pemberian anestetika dan berikan O2 100%
Seluruh tubuh dikompres es atau alkohol, kalau perlu lambung dibilas dengan larutan NaCl fisiologis dingin
Pemeriksaan gas darah segera dilakukan
Koreksi asidosis dengan natrium bikarbonat
Koreksi hiperkalemia dengan glukosa dan insulin
Oradekson dosis tinggi diberikan i.v.
Dantrolene i.v. 1-2 mg/ kgBB dapat diulang tiap 5-10 menit dan maksimum 10 mg/kgBB. Obat ini merupakan satu-satunya obat spesifik untuk hipertermia maligna.
Reaksi Hipersensitif 

Reaksi hipersensitif adalah reaksi abnormal terhadap obat karena terbentuknya mediator kimia endogen seperti histamin dan serotonin dan lainnya.Reaksi dapat saja terjadi pada tiap pemberian obat termasuk obat yang digunakandalam anestesia. Komplikasi sering terjadi pada pemberian induksi intravena danobat pelumpuh otot.

Gejala klinis hipersensitif :
Kulit kemerahan dan timbul urtikaria
Muka menjadi sembab
Vasodilatasi, tetapi nadi kecil sering tak teraba, sampai henti jantung.
Bronkospasme
Sakit perut, mual dan muntah, kadang diare

Pengobatan:
Hentikan pemberian obat anestetika
Dilakukan napas buatan dan kompresi jantung luar kalau terjadi hentijantung
Adrenalin 0,3-0,5 cc (1:1000) i.v. atau intratrakeal
Steroid, aminofilin atau vasopresor dipertimbangkan pada keadaan tertentu
Percepat cairan infus kristaloid
Operasi dihentikan dulu sampai gejala-gejala hilang.
Management Nyeri

Nyeri pasca bedah dikategorikan sebagai nyeri berat, sedang dan ringan.Untuk meredam nyeri pasca bedah pada anestesi regional untuk pasien dewasa,sering ditambahkan morfin 0.05-0.10 mg saat memasukkan anestesi lokal ke ruang subaraknoid atau morfin 2-5 mg ke ruang epidural. Tindakan ini sangat baiknyamanfaat karena dapat membebaskan nyeri pasca bedah sekitar 10-16 jam. Setelahitu nyeri yang timbul bersifat sedang atau ringan dan jarang diperlukan tambahan opioid dan kalaupun perlu cukup diberikan analgetik golongan NSAID (anti inflamasi non steroid) misalnya ketorolac 10-30 mg IV atau IM.

Opioid lain seperti petidin atau fentanil jarang digunakan intradural atau epidural, karena efeknya lebih pendek sekitar 3-6 jam. Efek samping opioid intratekal atau epidural ialah gatal di daerah muka. Pada manula dapat terjadi depresi napas setelah 10-24 jam. Gatal di muka dan depresi napas dapat dihilangkan dengan nalokson. Opioid intratekal atau epidural tidak dianjurkan pada manula kecuali dengan pengawasan ketat.

Kalau terjadi nyeri pasca bedah di UPPA diberikan obat golongan opioid secara bolus dan selanjutnya dengan titrasi perinfus.

Mual-Muntah

Mual-muntah pasca anestesi sering terjadi setelah anestesi umumterutama pada penggunaan opioid, bedah intra-abdomen, hipotensi dan pada analgesia regional. Obat mual-muntah yang sering digunakan pada peri anesthesia ialah :
Dehydrobenzoperidol (droperidol) 0,05-0,1 mg/kgBB (amp 5 mg/ml) i.m atau i.v.
Metoklopramid (primperan) 0,1 mg/kgBB i.v.,supp 20 mg
Ondansetron (zofran, narfoz) 0,05-0,1 mg/kgBB i.v
Cyclizine 25-50 mg.

Hal-hal lain yang harus diperhatikan adalah adanya komunikasi yang baik dan benar antara pasien,kelurga pasien ,team bedah dan anestesi sehingga semua dapat dipahami selama pasien berada di ruang pulih sadar sebelum di pindahkan ke ruangan atau perlu tidaknya perawatan khusus seperti di ruang HCU atau ICU sekalipun. ( Yustino Palugada_iStore and friends )

Iklan

Sejarah RS DARMO Surabaya 1921 sd Sekarang.

20150129070440

Halaman Depan RS Darmo Jl. Raya Darmo 90 Surabaya

Pada era pemerintahan Hindia Belanda di Surabaya, sekelompok orang Belanda yang berjiwa sosial ingin membantu meningkatkan pelayanan kesehatan penduduk Jawa Timur khususnya Surabaya
Bantuan tersebut diwujudkan dalam kegiatan :
1. Mendirikan tempat pelayanan kesehatan yang dikelola oleh dokter, perawat, dan tenaga lain yang dibutuhkan
2. Menyediakan fasilitas dan sarana yang diperlukan
3. Memberikan pelaayanan kepada orang sakit , tanpa membedakan tingkat sosial, agama, dan ras, dan kebangsaan
Guna lebih merealisasikan hal tersebut, mereka mendirikan perkumpulan bernama SURABAYASCHE ZIEKEN VERPLEGING    ( SZV ) pada tanggal 9 JUNI 1987, dipimpin oleh seorang Belanda yaitu : HJ OFFERHAUS
Tahun 1899, didirikan Klinik yang menempati gedung di Ngemplak dipimpin oleh Zr.Bonnekamp dengan kapasitas 78 TT. Sesuai perkembangan kota gedung tersebut berubah menjadi Hotel Asrama Polisi dan kini Plaza Surabaya
Tahun 1921 , Perkumpulan SZV membeli sebidang tanah di kawasan Darmo untuk didirikan Rumah Sakit. Pelaksana pembangunan adalah seorang arsitek terkenal pada pada waktu itu yaitu Mr Citroen dan pada tanggal 15 JANUARI 1921  peletakan batu pertama oleh SZV yaitu Ny. Hempenius. Pada saat itu Dokter, Perawat dan Karyawan Rumah Sakit Darmo seluruhnya orang-orang Belanda
Pada saat perang Pasifik Rumah sakit juga tidak luput dari pendudukan tentara jepang, bagian inventaris dan membuka klinik di jalan jawa yang akhirnya harus ditutup juga .Dengan berakhirnya masa pendudukan jepang , oleh pihak sekutu yang waktu itu secara de facto mengusai kota Surabaya, RS darmo dikembalikan lagi ke SZV.
Dengan susah payah dimulai pembangunan kembali beberapa kelas pelayanan dibuka lagi februari 1950. Mengingat untuk renovasi dan merehabilitasi rumah sakit membutuhkan dana yang besar , yang tidak mungkin dibebankan hanya pada perkumpulan , maka atas prakasrsa bebrapa pemimpin perusahaan dagang besar Belanda, mereka mendirikan suatu Yayasan Stichting Medisch Contact Oost Java ( SMC ) yang tujuannya menyelenggarakan pelayanan kesehatan untuk jawa timur dalam arti seluas-luasnya dengan membantu membiayai pengelolaan dan menyediakan tenaga yang diperlukan.
Yayasan ini didukung oleh tidak kurang 55 perusahaan Belanda besar di indonesia saat itu.Berkat bantuan “SMC ” RS Darmo mengalami kemajuan pesat , berturut-turut dibuka kamar operasi dengan peralaatan yang lengkap, ruang anak ,dan jumlah tempat tidur pun bertambah.Beberapa dokter spesialis didatangkan dari Belanda seperti Dr.kopp, Dr.Lodewijks ( keduanya dokter ahli bedah ) maka dimulailah era spesialisasi di RS Darmo
Tahun 1959 , dengan memburuknya hubungan antara Belanda dan Indonesia ( akibat sengketa irian) maka putuslah hubungan diplomatik kedua negara dan diambil alihlah sejumlah perusahaan Belanda oleh Indonesia
RS Darmo pun mengalami dampaknya , personil rumah sakit yang berasal dari Belanda berangsur-angsur dipulangkan ke negeri Belanda digantikan personil orang Indonesia
Orang Indonesia yang pertama kali duduk dalam perkumpulan RS Darmo adalah Bapak Fajar Notonegoro ( alm ) sedangkan Direktur pertama adalah Prof .DR.Sutan Asin ( alm ) kemudian berturut-turut yang menjabat direktur adalah :
1. Dr,Syaiful Anwar ( alm )
2. dr.Noerjaman, Sp PD ( alm )
3. Prof.Soemarto, Sp PD ( alm )
4. dr.Hadi Hartono, Sp JP
5. Prof.Dr. Soediono, Sp THT
6. dr.Imam Soewono, Sp PD ( sekarang )

31 AGUSTUS 1994 ,Pengurus RS Darmo mengganti Perkumpulan Darmo menjadi Yayasan RS Darmo

Dan sampai sekarang tetap mempertahankan cagar budaya peninggalan Belanda sehingga masih tampak kokoh berdiri megah di tengah kota surabaya dengan jangkauan transportasi yang sangat mudah , pasien – pasien hampir dari seluruh pelosok wilayah indonesia sampai di Indonesia bagian  timur ,RS Darmo pun menjalin kerjasama dan dipercaya dengan negara tetangga di Timor Leste dalam memberikan layanan yang paripurna . Sesuai dengan misi dan visi RS Darmo . # Yustino_Palugada iStore & Dr.Dewa .

Menjaga Sterilitas Kamar Operasi Bagian Dari Keselamatan Pasien.

20150128143015

Rutinitas Pemebersihan Di Kamar Operasi di RS Darmo Surabaya

Keselamatan Pasien saat ini murupakan hal yang wajib sebagai jaminan kepada para pemakai jasa dibidang kesehatan baik di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan yang ada di perifer seperti puskesmas , klinik ,balai pengobatan dll. Bentuk pelayanan keselamatan pasien bermacam macam , mulai dari identitas pasien , komunikasi efektif , pemberian dan pengaturan obat , tepat lokasi dan prosedur operasi , pengendalian infeksi ,serta pengawasan pada pasien dengan resiko jatuh. Termasuk di dalamnya adalah kebersihan ruangan juga bagian dari keselamatan pasien baik di unit perawatan,rawat jalan,Gawat Darurat,Intensive Care Unit,Hemodialisa,Apotik,Laborat,Radiologi, termasuk di Kamar Operasi ,sangatlah penting memelihara ruangan kamar operasi agar tetap terjaga keseterilannya baik alat-alat medis ,ruangan / kamar operasi termasuk para staf didalamnya baik perawat ,Dokter Bedah,Anestesi , serta staf non medis yang menjadi satu bagian dalam team worknya .Dengan Kondisi seperti ini akan membuat mood para staf menjadi fress melihat suasana ruangan tetap bersih.

20150128143018

Menggunakan Alat Dalam Mengerjakan Pemebersihan Lantai Kamar Operasi

20150128150918

Lantai Kamar Operasi Tampak Bersih dan Steril

20150128150836

Kamar Operasi sudah siap digunakan

20150128150816

Tetap Mempertahankan Kesterilan Kamar Operasi

20150128151247

Kami tetap menerima Kritik dan Saran demi meningkatkan Kualitas Pelayanan di Kamar Operasi

20150128152516

Ruangan Pasca Bedah juga mendapatkan perhatian

Semakin kita bisa menilai kekurangan dalam diri kita semakin memupuk semangat untuk tetap ,berusaha ,berkarya dan memelihara apa yang sudah kita bangun dengan merawat,mempertahankan dan meningkatkan kualitas Pelayanan,khusunya di Kamar Operasi RS DARMO SURABAYA. ( # yustino_Palugada iStore.)

Kemeriahan Acara Ulang Tahun Ke 94 RS DARMO Surabaya

_MG_8489

Pelepasan balon sebagai tanda kemeriahan acara dalam rangka HUT ke 94 RS DARMO SURABAYA

_MG_8472

Unik dan menarik kostum para peserta karnaval

_MG_8470

Acara Karnaval dengan bahan daur ulang cukup menarik minat dan menambah kemeriahan HUT Ke 94 RS Darmo

_MG_8507

Cantik , Menarik buat ajang foto – foto

_MG_8642

Band JAYA ALL STARS beroyang dengan para Panitia HUT

_MG_8569

Acara Potong Tumpeng dan Kue Tart oleh Direktur RS Darmo Bp. Dr.Imam Soewono Sp PD

_MG_8644

Pengumuman pemenang Hadiah Utama sebuah Sepeda Motor oleh Bp . Direktur RS Darmo

_MG_8652

Foto bersama Panitia HUT ke 94 dan Pemenang Hadiah Utama

Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 18 Januari 2015 adalah moment kemeriahan acara HUT ke 94 RS Darmo Surabaya ,banyak kegiatan menarik dalam acara ini mulai lomba Senam Poco – Poco ,Aksi Donor Darah ,Cerdas Cermat ,Lomba Telusur Akreditasi versi 2012 , Bagi Bunga dan Kalender kepada para pengunjung dan pasien ,Lomba Karnaval, Senam Pagi dan Senam Poco – Poco dan Panggung Hiburan dengan banyak sekali Hadiah – Hadiah yang kita bagi buat semua karyawan RS Darmo ini. Acara HUT sendiri sebenarnya adalah tanggal 15 Januari , namun perayaan ini kita adakan pada tanggal 18 Jnuari 2015. Banyak sekali yang hadir saat itu mulai karyawan , anggota keluarga karyawan , Dokter Spesialis , Yayasan ,Direktur RS Darmo juga turut hadir . Tetap Semangat dan Terus Berkarya buat RS DARMO …..

VISI – MISI – FALSAFAH DAN TUJUAN KAMAR OPERASI RS DARMO SURABAYA

IMG_E_20141111_132208

VISI : MENJADI BEDAH SENTRAL PILIHAN UTAMA DI SURABAYA

MISI : MEMBERIKAN PELAYANAN BEDAH SENTRAL SECARA PROFESIONAL,BERTANGGUNG JAWAB,EFEKTIF DAN EFISIEN SESUAI STANDART PROFESI

FALSAFAH : MENYELEMATKAN PENDERITA ADALAH KEWAJIBAN UTAMA

TUJUAN : TERLAKSANANYA PELAYANAN KEPERAWATAN DAN MEDIS DI INSTALASI BEDAH SENTRAL DENGAN MEMANDANG PASIEN SEBAGAI MANUSIA YANG UTUH ( HOLISTIK ) YANG HARUS DIPENUHI KEBUTUHANNYA SECARA BIOLOGIS,PSIKOLOGIS,SOSIAL DAN SPIRITUAL YANG DIBERIKAN SECARA KOMPREHENSIF,AMAN,TEPAT DAN AKURAT.

 

PERCUTANEOUS NEPROLITHOTOMY ( PNL )

INSTALASI Bedah Sentral Rumah Sakit Darmo Surabaya

createimage1_medium

Operasi Pengambilan Batu Ginjal saat ini sudah tidak perlu dengan irisan lebar di daerah pinggang ,dengan kemajuan teknologi kedokteran membuat semakin cepat dan akurat dengan minimal insisi maka batu ginjal sudah bisa dikeluarkan . Dengan masa rawat inap yang cukup singkat.

Pelayanan ini sudah bisa dikerjakan oleh para Profesional Kedokteran khususnya di Instalasi Bedah Sentral Surabaya . 031 – 5676253 -6 pswt : 354 , 352 ,371 Jl. raya Darmo No .90 Surabaya.

MINIMAL INVASIVE SURGERY

Kidney stones are formed in the urinary tract due to crystallization of chemical compounds in the urine. PCNL is a technique used to remove certain stones in the kidney or upper ureter (the tube that drains urine from the kidney to the bladder) that are too large for other forms of stone treatment (e.g. shock wave lithotripsy, ureteroscopy).

What to expect during you preoperative consultation
During your initial consultation with your surgeon, he will…

Lihat pos aslinya 1.751 kata lagi

PERCUTANEOUS NEPROLITHOTOMY

createimage1_medium

Operasi Pengambilan Batu Ginjal saat ini sudah tidak perlu dengan irisan lebar di daerah pinggang ,dengan kemajuan teknologi kedokteran membuat semakin cepat dan akurat dengan minimal insisi maka batu ginjal sudah bisa dikeluarkan . Dengan masa rawat inap yang cukup singkat.

Pelayanan ini sudah bisa dikerjakan oleh para Profesional Kedokteran khususnya di Instalasi Bedah Sentral Surabaya . 031 – 5676253 -6 pswt : 354 , 352 ,371 Jl. raya Darmo No .90 Surabaya.

MINIMAL INVASIVE SURGERY

Kidney stones are formed in the urinary tract due to crystallization of chemical compounds in the urine. PCNL is a technique used to remove certain stones in the kidney or upper ureter (the tube that drains urine from the kidney to the bladder) that are too large for other forms of stone treatment (e.g. shock wave lithotripsy, ureteroscopy).

What to expect during you preoperative consultation
During your initial consultation with your surgeon, he will review your medical history as well as any outside reports, records, and outside Xray films (e.g. KUB, CT scan, MRI, sonogram). A brief physical examination will also be performed at the time of your visit. If your surgeon determines that you are a candidate for surgery, you will then meet with a Patient Service Surgery Coordinator to arrange for the date of your operation.
What to expect prior to the surgery

Since insurance companies will not permit patients to be admitted to the hospital the day before surgery to have tests completed, you must make an appointment to have pre-operative testing done at your family doctor or primary care physician’s office within 1 month prior to the date of surgery.

Once your surgical date is secured, you will receive a form along with a letter of explanation to take to your primary care physician or family doctor in order to have the following pre-operative testing done prior to your surgery.
Physical exam
EKG (electrocardiogram)
CBC (complete blood count)
PT / PTT (blood coagulation profile)
Comprehensive Metabolic Panel (blood chemistry profile)
Urinalysis
Preparation for surgery

Medications to Avoid Prior to Surgery
• Aspirin, Motrin, Ibuprofen, Advil, Alka Seltzer, Vitamin E, Ticlid, Coumadin, Lovenox, Celebrex, Voltaren, Vioxx, Plavix and some other arthritis medications can cause bleeding and should be avoided 1 week prior to the date of surgery (Please contact your surgeon’s office if you are unsure about which medications to stop prior to surgery. Do not stop any medication without contacting the prescribing doctor to get their approval).
It is very important that your last urine culture was negative prior to having this procedure. Please call the physician’s office at least one week before this procedure to confirm your urine culture results. If you suspect that you may have a urinary tract infection, please call the physician office immediately so that proper antibiotics can be prescribed before your surgery.

The Operation
This procedure has been performed on many patients over the last several years and is accepted standard of care for patients with kidney stones that are large, very firm, or resistant to other forms of stone treatment. As such it has replaced open operations for kidney stones in the vast majority of patients.
Typically, the length of the surgery is 3-4 hours. The surgery is performed by making a small 1 cm incision in the patient’s flank area (Figure 1). A tube is placed through the incision into the kidney under x-ray guidance. A small telescope is then passed through the tube in order to visualize the stone, break it up and remove it from the body. If necessary a laser or other device called a lithotripter may be used to break up the stone before it can be removed. This procedure has resulted in significantly less post-operative pain, a shorter hospital stay, and earlier return to work and daily activities when compared to open stone surgery.
This technique also has a higher success rate for clearing all stones in one setting than other techniques such as extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL), which often require several attempts.

Potential Risks and Complications
Although this procedure has proven to be very safe, as in any surgical procedure there are risks and potential complications. The safety and complication rates are similar when compared to the open surgery. Potential risks include:
Bleeding: Some blood loss will occur with this procedure but rarely do patients require a blood transfusion. If you are interested in autologous blood transfusion (donating your own blood) you must make your surgeon aware. When the packet of information is mailed to you regarding your surgery, you will also receive an authorization form for you to take to the Red Cross. You must coordinate this with the Red Cross in your area.
Infection: All patients are treated with broad-spectrum antibiotics to decrease the chance of infection from occurring after surgery. If you develop any signs or symptoms of infection after the surgery (fever, drainage from incision, urinary frequency/discomfort, pain or anything that you may be concerned about) please contact us at once.
Tissue / Organ Injury: Although uncommon, possible injury to surrounding tissue/organs including bowel, vascular structures, spleen, liver, lung, pancreas and gallbladder could require further surgery. Loss of kidney function is rare but is a potential risk. Scar tissue may also form in the kidney or ureter requiring further surgery.
Conversion to open surgery: This surgical procedure may require conversion to the standard open operation if difficulty is encountered during this procedure. This could result in a larger standard open incision and possibly a longer recuperation period.
Failure to Remove the Stone: There is a possibility that the stone(s) may not be able to be removed completely, usually either due to the size or location of the stone(s). Additional treatment may be required.
WHAT TO EXPECT AFTER SURGERY
During your hospitalization
Immediately after the surgery you will be taken to the recovery room, then transferred to your hospital room once you are fully awake and your vital signs are stable.
Post-operative pain: Pain medication can be controlled and delivered by the patient via an intravenous catheter or by injection (pain shot) administered by the nursing staff.
Nephrostomy Tube: You can expect to have a small tube called a nephrostomy tube coming out of your back to allow urine to drain from the kidney into a drainage bag. The nephrostomy tube typically remains in place for 1-2 days. There is a possibility that you will be discharged from the hospital with the nephrostomy tube as deemed necessary by your surgeon.
Stent: You may have an internal ureteral stent in place within the ureter between the kidney to the bladder to promote drainage from the kidney. This will be removed in your surgeon’s office in typically 1-2 weeks following surgery.
Nausea: You may experience some nausea related to the anesthesia. Medication is available to treat persistent nausea.
Urinary Catheter: You can expect to have a urinary catheter draining your bladder (which is placed in the operating room while the patient is asleep) for approximately one day after the surgery. It is not uncommon to have blood-tinged urine for a several days after surgery.
Diet: You can expect to have an intravenous catheter (IV) in for 1-2 days. (An IV is a small tube placed into your vein so that you can receive necessary fluids and stay well hydrated until you are able to tolerate a diet; in addition it provides a way to receive medication). Most patients are able to tolerate ice chips and small sips of liquids the day of the surgery and regular food the next day. Once on a regular diet, pain medication can be given by mouth instead of by IV or shot.
Fatigue is common and should subside in a few weeks following surgery.
Incentive Spirometry: You will be expected to do some very simple breathing exercises to help prevent respiratory infections through use of an incentive spirometry device (these exercises will be explained to you during your hospital stay). Coughing and deep breathing is an important part of your recuperation and helps prevent pneumonia and other pulmonary complications.
Ambulation: On the day after your surgery it is very important to get out of bed and begin walking with the supervision of your nurse or family member to help prevent blood clots from forming in your legs. You can expect to have SCDs (sequential compression devices) along with tight white stockings on your legs to also aid in the prevention of blood clots.
Hospital Stay: The length of hospital stay for most patients is approximately 1-2 days.
Constipation: You may experience sluggish bowels for several days or several weeks following surgery. Suppositories and stool softeners can be taken to help with this problem. Taking mineral oil at home will also help to prevent constipation.
Secondary Procedures: Some patients have stones that are very large or that cannot be safely removed at one setting. You may need a “second look” operation to remove any remaining stones, either during the hospitalization or at another visit.

What to expect after discharge from the hospital

Pain Control: you can expect to have some pain that may require pain medication for a few days after discharge. Most patients, however, find that Tylenol is sufficient to control the incisional pain.
Showering: You may shower at home. Your wound site can get wet, but must be padded dry afterwards. Tub baths can soak your incision and therefore are not recommended in the first 2 weeks after surgery.
Activity: Taking daily walks is advised. Prolonged sitting or lying in bed should be avoided. Climbing stairs is possible, however, should be taken slowly. Driving should be avoided for at least 1-2 weeks after surgery. After this time, activity can begin as tolerated. You can expect to return to work as soon as 1-2 weeks following surgery or as instructed by your physician.
Follow-up Appointment:
Stent Follow-up: The length of time the stent remains in place is variable. Your doctor will probably request it to be removed within a 1-4 week period. This can be removed in the doctor’s office. It is common to feel a slight amount of flank fullness and urgency to void as a result of the stent. These symptoms often improve over time as the body adjusts to the indwelling stent. It is critical that patients return to have their stent removed as instructed by their physician as a prolonged indwelling ureteral stent can result in encrustation by stone debris, infection, and obstruction of the kidney.
Nephrostomy Site Care: If you are discharge home with a nephrostomy in place, it is important that urine flow freely through the tube. Check daily to make sure the tube is not kinked. Make sure the stopcock, if present, remains in the open position to allow urine to drain from the kidney. Keep the tube securely anchored o the skin with tape to prevent pulling and to keep the tube in place. Monitor the amount of drainage and color. Blood tinged urine is not uncommon. Keep the drainage bag below the level of the kidney at all times. It is important to clean the area around the insertion site with mild soap and water each day when you shower. Pat the area dry after showering and clean directly around the insertion site with hydrogen peroxide using a cotton tip applicator. Apply a clean sterile dressing after cleaning the area. If you experience any change in pain, fever, chills, pus forming around the insertion site, the catheter not draining or leaking around the tube you must contact your doctor immediately.
SEMOGA INFO INI BISA BERMANFAAT.